BATU BARA, CPO DAN NIKEL JADI KEKUATAN NEGARA INDONESIA
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui ada lima presiden hingga perdana menteri yang langsung menghubunginya saat Indonesia memutuskan melarang ekspor komoditas mentah. Salah satunya, ada yang memohon kepada Jokowi untuk mengirimkan batu bara secepatnya.
“Mohon kita dikirim batu baranya ini segera secepatnya, kalau tidak, ini mati kita, listrik kita mati, industri kita mati,” cerita Jokowi saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6).
Hal serupa terjadi ketika Indonesia menutup ekspor CPO. Jokowi mengatakan ada dua presiden dan perdana menteri yang menghubungi dirinya untuk dikirimkan CPO dalam dua hari guna menghindari gejolak sosial politik di negerinya.
Pada saat itu, tambah Jokowi, ada stok CPO sebanyak 3 juta ton. Para pemimpin negara meminta dikirimkan sekitar 200 ribu ton, namun Jokowi memutuskan mengirim 120 ribu ton.
Jokowi menilai, situasi tersebut telah membuktikan bahwa kekuatan Indonesia di kancah internasional terlihat jelas. Indonesia memiliki peran yang begitu krusial dalam ekspor bahan mentah, terutama untuk batu bara, minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan nikel.
“Jadi kita tahu posisi kita ada di mana, kekuatan kita ada di mana. Di sini mulai kelihatan batu bara, kita mempunyai kekuatan besar CPO, kita mempunyai kekuatan besar nikel, kita punya kekuatan besar,” jelas Jokowi.
Jokowi menceritakan, pada Januari lalu saat Indonesia menghentikan ekspor batu bara, ada lima presiden hingga perdana menteri yang langsung menghubunginya. Mereka memohon kepada Jokowi untuk mengirimkan batu bara secepatnya.
“Mohon kita dikirim batu baranya ini segera secepatnya, kalau tidak, ini mati kita, listrik kita mati, industri kita mati,” kenang Jokowi.
Tidak hanya itu, kata Jokowi, saat Indonesia memilih menutup keran ekspor CPO untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, ada dua presiden dan perdana menteri yang menghubungi dirinya. Mereka mengatakan, apabila Jokowi tidak mengirimkan CPO dalam dua hari akan terjadi gejolak sosial politik di negerinya.
Jokowi menyebutkan, situasi tersebut telah membuktikan bahwa kekuatan Indonesia berada di ekspor bahan mentah. Namun, Jokowi kembali mengingatkan agar Indonesia harus berani menghentikan ekspor bahan mentah dan mulai melakukan industrialisasi serta mengekspor bahan jadi maupun setengah jadi.

Komentar
Posting Komentar